MENCARI DIRI
SENDIRI
Kita semua
mungkin pernah mendapat nasehat sederhana , " Engkau tak akan bahagia
sebelum menjadi n mencari dirimu sendiri".
Jalan untuk
mencapai kebahagiaan adlh dgn mendekati Sumber Kebahagiaan. Semakin dekat kita
dgn Sumber Kebahagiaan, semakin kita menjadi bahagia.
Sumber Kebahagiaan (Tuhan) terdapat di dalam tubuh kita, tetapi pikiran dan ego kitalah yg telah menempatkan tirai penutup antara kita dgn sang Pencipta. Dlm desakan tak berkesudahan dari 'aku' n 'kepunyaanku'.
Tirai ini
hanya dapat diangkat n ditembus oleh 'Kalam' (Kun, Shabda, Logos, Roh Kudus,
Firman, Saut-i-Surmat para Sufi, Tao orang Cina, Shrahoza para Zoroastrian,
atau nama apapun yg diberikan untuk Kuasa itu).
Adalah
dorongan hati nurani manusia unutk mencari ketenangan n kebahagiaan dlm hidup.
Namun di mana kita mencarinya? Pandangan kita senantiasa berkiblat ke arah
godaan dunia. Dan semakin kita berusaha mencari ketenangan n kebahagiaan dlm
berbagai bentuk n rupa dari dunia materi ini, semakin dlm kita terbenam dlm
lumpur n semakin besar penderitaan kita.
Sesuai
kodratnya benda2 yg kita cari bersifat sementara. Akibatnya kesenangan yg dapat
diperoleh darinya berumur pendek. Dgn lewatnya waktu, semua kesenangan dunia
pikiran n benda ini akan berubah warnanya n menghasilkan buah kesakitan.
Mengapa
ketenangan n yang dikatakan kebahagiaan dlm dunia ini begitu
semu. Tuhan telah membuat susunan dunia ini dari jalinan suka n duka.
Dalam 'lemba hair mata' ini, di mana setiap mawar mempunyai duri, setiap
kesenangan bercampur dgn penderitaan, tdk seorangpun yg hanya mengecap
kebahagiaan yg murni, n tdk seorangpun yg nasibnya hanya mengalami penderitaan
saja.
Dlm setiap
kehidupan ada bercak2 gelap n terang. Kita memperoleh saat2 tenang dlmdunia ini
sbg akibat perbuatan baik kita di masa lampau, n semua kesakitan n penderitaan
yg menghampiri kita mrpkn hasil nyata dari perbuatan buruk kita dimasa lampau.
Para Bijak n
Waskita menyebut dunia ini sbg ladang perbuatan, krn di sini kita hrs menuai
apa yg telah kita taburkan.
Selama kita
terkurung dlm kerangka tubuh, maka bila kita melakukan perbuatan baik, kita
akan kembali memetik hasil baiknya, n bila melakukan perbuatan yg buruk, kita
akan kembali menderita akibatnya. Dgn melakukan perbuatan yg baik maupun yg
buruk, kita tdk dapat lolos dari lingkaran kelahiran n kematian, yaitu roda
kehidupan.
Apakah upah
dari perbuatan baik? Harta yg tak terbilang banyaknya, jubah kerajaan,
kepemimpinan atas bangsa dan agama. Belenggu emas menggantikan belenggu besi
sehingga tangan n kaki kita tetap terikat kpd dunia ini. Dari sebuah gubuk,
kita berpindah ke istana. Kita melepas gagang sapu untuk menggantinya dgn tali
kekang kekuasaan. Paling2 untuk jangka waktu yg terbatas, kita berhak untuk
masuk ke taman firdaus atau surga yg juga masih termasuk daerah karma yg berada
di bawah kekuasaan pikiran n benda. Manusia dianggap sbg 'bentuk ciptaan
tertinggi' yg di dalamnya Tuhan menempatkan kebaktianNya. Namun meskipun di
dalam jenis kehidupan yg paling didambakan ini tak seorangpun yg merasakan puas
n bahagia.
Sementara orang dibayangi penyakit, yg lain oleh kutukan pengangguran. Ada yg siang malam mengidamkan anak, yg lain merasa cemas n sedih krn memiliki banyak anak. Beberapa orang cemas krn tdk memperoleh pinjaman, yg lain cemas krn tdk dpt mengembalikan pinjaman. Kita hanya perlu pergi ke rumah sakit untuk dpt medengar jeritan menyayat hati dr mereka yg bergulat mlawan kesakitan, atau ke penjara untuk mendengar kisah duka para penghuninya.
Disisi lain,
seorang yg telah memperoleh pemberian Tuhan agak berlebihan, seorang teman
hidup yg penuh kasih sayang n baik budi, badan yg sehat n kuat, nama
popularitas yg menimbulkan iri hati, kekayaan yg belimpah, anak2 yg sopan
santun, pendek kata semua serba cemerlang. Bahkan orang spt itu, bila ia berada
sendirian, ia terkadang diliputi oleh rasa kesepian, rasa kekosongan spt ada
sesuatu yg kurang, kekurangan sesuatu yg penting, shg itu mengganggu ketenangan
pikiranya meskipun ia hidup berkecukupan.
Ia malah tdk
mengerti apa yg kurang pd dirinya. Bila Tuhan telah begitu bermurah hati,
mengapa ia hrs merasa terpencil, mengapa pikiranya kalut ? Tdk ada jawaban jitu
atas pertanyaanya tsb.
Semakin ia berpikir, semakin ia merasa bingung.
Semakin ia berpikir, semakin ia merasa bingung.
Kita dpt
mengatakan, yg menyebabkan kekalutan tsb adlh kerinduan jiwa akan rumahnya yg
telah lama terlupakan, kerinduanya akan sumbernya (AS-nya), akan dirinya
sendiri.
Selama kita
tdk menjadikan jiwa melangkah maju pd Jalan yg menuju ke rumahnya, maka kita
tdk akan merasakan kedamaian n kepuasan dlm arti yg sebenarnya. Itulah sebabnya
para Bijak mengajar kita untuk mencari Pencipta kita dgn jalan Kasih &
Kebaktian.
Untuk itu,
marilah bersama2 belajar menjadi diri sendiri agar tidak mudah terombang-ambing
oleh irama dunia yg bisa membawa kita pada kesesatan, Semoga bermanfaat...




Tidak ada komentar:
Posting Komentar