Jumat, 04 April 2014

MENCARI DIRI SENDIRI



MENCARI DIRI SENDIRI
Kita semua mungkin pernah mendapat nasehat sederhana , " Engkau tak akan bahagia sebelum menjadi n mencari dirimu sendiri".
Jalan untuk mencapai kebahagiaan adlh dgn mendekati Sumber Kebahagiaan. Semakin dekat kita dgn Sumber Kebahagiaan, semakin kita menjadi bahagia.

Sumber Kebahagiaan (Tuhan) terdapat di dalam tubuh kita, tetapi pikiran dan ego kitalah yg telah menempatkan tirai penutup antara kita dgn sang Pencipta. Dlm desakan tak berkesudahan dari  'aku' n 'kepunyaanku'.
Tirai ini hanya dapat diangkat n ditembus oleh 'Kalam' (Kun, Shabda, Logos, Roh Kudus, Firman, Saut-i-Surmat para Sufi, Tao orang Cina, Shrahoza para Zoroastrian, atau nama apapun yg diberikan untuk Kuasa itu).

Adalah dorongan hati nurani manusia unutk mencari ketenangan n kebahagiaan dlm hidup. Namun di mana kita mencarinya? Pandangan kita senantiasa berkiblat ke arah godaan dunia. Dan semakin kita berusaha mencari ketenangan n kebahagiaan dlm berbagai bentuk n rupa dari dunia materi ini, semakin dlm kita terbenam dlm lumpur n semakin besar penderitaan kita. 





Sesuai kodratnya benda2 yg kita cari bersifat sementara. Akibatnya kesenangan yg dapat diperoleh darinya berumur pendek. Dgn lewatnya waktu, semua kesenangan dunia pikiran n benda ini akan berubah warnanya n menghasilkan buah kesakitan.

Mengapa ketenangan  n yang dikatakan kebahagiaan dlm dunia ini begitu semu. Tuhan telah membuat susunan dunia ini dari jalinan suka n duka. Dalam 'lemba hair mata' ini, di mana setiap mawar mempunyai duri, setiap kesenangan bercampur dgn penderitaan, tdk seorangpun yg hanya mengecap kebahagiaan yg murni, n tdk seorangpun yg nasibnya hanya mengalami penderitaan saja.
Dlm setiap kehidupan ada bercak2 gelap n terang. Kita memperoleh saat2 tenang dlmdunia ini sbg akibat perbuatan baik kita di masa lampau, n semua kesakitan n penderitaan yg menghampiri kita mrpkn hasil nyata dari perbuatan buruk kita dimasa lampau.

Para Bijak n Waskita menyebut dunia ini sbg ladang perbuatan, krn di sini kita hrs menuai apa yg telah kita taburkan.

Selama kita terkurung dlm kerangka tubuh, maka bila kita melakukan perbuatan baik, kita akan kembali memetik hasil baiknya, n bila melakukan perbuatan yg buruk, kita akan kembali menderita akibatnya. Dgn melakukan perbuatan yg baik maupun yg buruk, kita tdk dapat lolos dari lingkaran kelahiran n kematian, yaitu roda kehidupan.

Apakah upah dari perbuatan baik? Harta yg tak terbilang banyaknya, jubah kerajaan, kepemimpinan atas bangsa dan agama. Belenggu emas menggantikan belenggu besi sehingga tangan n kaki kita tetap terikat kpd dunia ini. Dari sebuah gubuk, kita berpindah ke istana. Kita melepas gagang sapu untuk menggantinya dgn tali kekang kekuasaan. Paling2 untuk jangka waktu yg terbatas, kita berhak untuk masuk ke taman firdaus atau surga yg juga masih termasuk daerah karma yg berada di bawah kekuasaan pikiran n benda. Manusia dianggap sbg 'bentuk ciptaan tertinggi' yg di dalamnya Tuhan menempatkan kebaktianNya. Namun meskipun di dalam jenis kehidupan yg paling didambakan ini tak seorangpun yg merasakan puas n bahagia.

Sementara orang dibayangi penyakit, yg lain oleh kutukan pengangguran. Ada yg siang malam mengidamkan anak, yg lain merasa cemas n sedih krn memiliki banyak anak. Beberapa orang cemas krn tdk memperoleh pinjaman, yg lain cemas krn tdk dpt mengembalikan pinjaman. Kita hanya perlu pergi ke rumah sakit untuk dpt medengar jeritan menyayat hati dr mereka yg bergulat mlawan kesakitan, atau ke penjara untuk mendengar kisah duka para penghuninya.

Disisi lain, seorang yg telah memperoleh pemberian Tuhan agak berlebihan, seorang teman hidup yg penuh kasih sayang n baik budi, badan yg sehat n kuat, nama popularitas yg menimbulkan iri hati, kekayaan yg belimpah, anak2 yg sopan santun, pendek kata semua serba cemerlang. Bahkan orang spt itu, bila ia berada sendirian, ia terkadang diliputi oleh rasa kesepian, rasa kekosongan spt ada sesuatu yg kurang, kekurangan sesuatu yg penting, shg itu mengganggu ketenangan pikiranya meskipun ia hidup berkecukupan.
Ia malah tdk mengerti apa yg kurang pd dirinya. Bila Tuhan telah begitu bermurah hati, mengapa ia hrs merasa terpencil, mengapa pikiranya kalut ? Tdk ada jawaban jitu atas pertanyaanya tsb.
Semakin ia berpikir, semakin ia merasa bingung.

Kita dpt mengatakan, yg menyebabkan kekalutan tsb adlh kerinduan jiwa akan rumahnya yg telah lama terlupakan, kerinduanya akan sumbernya (AS-nya), akan dirinya sendiri.
Selama kita tdk menjadikan jiwa melangkah maju pd Jalan yg menuju ke rumahnya, maka kita tdk akan merasakan kedamaian n kepuasan dlm arti yg sebenarnya. Itulah sebabnya para Bijak mengajar kita untuk mencari Pencipta kita dgn jalan Kasih & Kebaktian.
Untuk itu, marilah bersama2 belajar menjadi diri sendiri agar tidak mudah terombang-ambing oleh irama dunia yg bisa membawa kita pada kesesatan, Semoga bermanfaat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar